- Diposting oleh : Dedek Helida Putra
- pada tanggal : Agustus 16, 2026
Kalau kita melihat anak-anak bermain engklek, yang tampak
mungkin hanya beberapa kotak yang digambar di tanah, sebuah batu kecil sebagai gaco,
lalu anak-anak melompat dengan satu kaki dari satu kotak ke kotak lainnya.
Sederhana sekali. Tidak membutuhkan gawai, baterai, koneksi internet, atau
peralatan mahal.
Sayang, di balik kesederhanaannya, engklek menyimpan cerita
yang cukup panjang. Permainan ini telah dikenal di berbagai daerah Indonesia
dan memiliki banyak nama. Ada yang menyebutnya engklek, sunda manda,
ingkling, teklek, dampu, dan beberapa nama lokal lainnya. Bentuk serta
aturan permainannya pun dapat sedikit berbeda antara satu daerah dengan daerah
lain. Yang menarik, justru sejarah asal-usul engklek belum dapat dipastikan
secara mutlak.
Dari Mana Asal Engklek?
Sampai sekarang, belum ditemukan bukti sejarah yang
benar-benar kuat untuk memastikan siapa pencipta pertama permainan engklek atau
kapan permainan ini pertama kali muncul di Indonesia. Karena itu, cerita
tentang asal-usul engklek sebaiknya dipahami sebagai dugaan sejarah dan
bagian dari perkembangan tradisi, bukan sebagai fakta tunggal yang sudah
terbukti.
Salah satu pendapat yang cukup populer menghubungkan
permainan ini dengan masa kolonial Belanda. Dalam sejumlah sumber Indonesia,
engklek atau sunda manda disebut berkaitan dengan istilah Belanda “zondag-maandag”,
yang kemudian dipercaya mengalami perubahan penyebutan di masyarakat menjadi
“sunda manda”. Dugaan tersebut menyebutkan bahwa permainan ini berkembang di
Nusantara pada masa kolonial dan kemudian beradaptasi menjadi permainan
anak-anak di berbagai daerah.
Tetapi, ada satu hal penting yang perlu dicatat.
Hubungan antara
engklek dan “zondag-maandag” belum didukung bukti dokumenter yang cukup untuk
disebut sebagai asal-usul yang pasti. Karena itu, narasi tersebut lebih tepat disebut sebagai salah satu versi
sejarah yang berkembang dalam masyarakat.
Pendapat lainnya menghubungkan engklek dengan permainan hopscotch
yang dikenal di berbagai wilayah dunia. Bentuk dasarnya memang memiliki
kemiripan, pemain melompat menggunakan satu kaki pada petak-petak
yang dibuat di permukaan tanah. Sejumlah literatur bahkan mengaitkan permainan
sejenis dengan masa Romawi Kuno. Belum dijelaskan, kemiripan bentuk permainan tidak otomatis membuktikan
bahwa engklek Indonesia secara langsung berasal dari permainan tersebut.
Bisa
disimpulkan, sejarah engklek
masih menyisakan ruang untuk penelitian lebih lanjut. Bisa jadi permainan ini
mengalami perjalanan budaya yang panjang, mengalami perubahan bentuk dan
aturan, kemudian beradaptasi dengan lingkungan masyarakat tempat permainan itu
berkembang.
Dari Satu Daerah
ke Daerah Lain, Namanya Bisa Berbeda. Salah satu hal
menarik dari engklek adalah keberagaman namanya.
Di Jawa, permainan ini dikenal luas sebagai engklek
atau ingkling. Di beberapa daerah dikenal sebagai sunda manda,
sementara daerah lainnya memiliki penyebutan tersendiri. Permainan dengan pola
dan prinsip yang serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk
Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.
Perbedaan nama tersebut justru menunjukkan bahwa
permainan tradisional tidak selalu berkembang dalam satu bentuk yang seragam.
Ketika sebuah permainan berpindah dari satu komunitas ke komunitas lainnya,
masyarakat dapat memberikan nama, aturan, bentuk petak, bahkan cara bermain
yang sesuai dengan lingkungan budaya mereka.
Jadi, engklek bukan sekadar satu permainan dengan satu
nama. Engklek
dapat dilihat sebagai bagian dari kekayaan permainan
rakyat Nusantara yang mengalami proses adaptasi budaya.
Mengapa Engklek Tidak Sekadar Permainan?
Di sinilah menariknya permainan tradisional.
Engklek memang terlihat seperti permainan melompat. Tetapi, ketika dimainkan, anak sebenarnya sedang melakukan
banyak aktivitas sekaligus. Permainan ini harus menjaga keseimbangan tubuh, mengatur gerakan kaki,
memperkirakan jarak lemparan, berkonsentrasi pada sasaran, mengikuti aturan,
menunggu giliran, dan menerima konsekuensi ketika melakukan kesalahan.
Penelitian tentang permainan sunda manda
menunjukkan bahwa permainan ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
kemampuan fisik-motorik, khususnya kemampuan melompat atau meloncat.
Bahkan dari perspektif pembelajaran, pola petak engklek
dapat dikaitkan dengan konsep matematika. Penelitian etnomatematika menemukan
adanya unsur geometri datar, seperti persegi, persegi panjang, dan setengah
lingkaran dalam bentuk petak permainan engklek.
Artinya, ketika anak sedang bermain engklek, sebenarnya
ada proses belajar yang berlangsung secara alami.
Anak belajar keseimbangan melalui gerak, belajar
aturan melalui permainan, belajar berhitung melalui petak, belajar mengambil
keputusan melalui strategi, dan belajar bersosialisasi melalui interaksi dengan
teman.
Engklek dan Dunia Anak Hari Ini
Ada sesuatu yang menarik dari permainan engklek di tengah
kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan teknologi.
Untuk memainkan engklek, anak tidak perlu membuka
aplikasi. Tidak ada loading. Tidak ada login. Tidak ada
notifikasi. Cukup mencari tempat yang datar, menggambar petak, mencari sebuah
batu kecil, lalu mengajak teman bermain.
Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatannya.
Permainan tradisional memberikan ruang bagi anak untuk
bergerak dan berinteraksi secara langsung. Dalam permainan engklek, anak tidak
hanya berhadapan dengan layar, tetapi juga dengan ruang nyata, teman bermain,
aturan, tubuhnya sendiri, dan lingkungan di sekitarnya.
Karena itu, mempertahankan permainan tradisional bukan
berarti menolak perkembangan teknologi. Sebaliknya, permainan seperti engklek
dapat ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya yang dapat dihidupkan
kembali dalam kehidupan anak masa kini.
Jejak yang Tidak
Boleh Hilang
Mungkin kita tidak pernah benar-benar tahu siapa orang
pertama yang menggambar petak engklek di tanah.
Mungkin kita juga tidak akan pernah mendapatkan jawaban
pasti apakah permainan ini benar-benar berasal dari zondag-maandag,
memiliki hubungan dengan hopscotch, atau berkembang melalui proses
budaya yang jauh lebih kompleks.
Tetapi satu hal dapat kita lihat dengan jelas,
engklek telah
menjadi bagian dari pengalaman bermain masyarakat Indonesia selama beberapa
generasi.
Nilai pentingnya bukan hanya terletak pada siapa yang
pertama kali menciptakannya. Nilai pentingnya justru terletak pada bagaimana
permainan itu diwariskan, dimainkan, diadaptasi, dan dikenang oleh masyarakat.
Sebuah gambar sederhana di atas tanah ternyata dapat
menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah, budaya, pendidikan, gerak tubuh,
matematika, dan kehidupan sosial. Maka, ketika seorang anak melompat dari satu petak ke
petak lainnya, sesungguhnya ia tidak hanya sedang bermain.
Permainan
engklek sedang menjejak
satu bagian kecil dari perjalanan budaya kita.
Dan mungkin, dari sanalah kita belajar bahwa warisan
budaya tidak selalu tersimpan di museum. Kadang-kadang, ia justru masih
menunggu kita di halaman rumah, di tanah lapang, atau di sebuah petak sederhana
yang digambar dengan kapur.
Itulah jejak
engklek. Jejak permainan sederhana yang masih menyimpan cerita.
