Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

“ENGKLEK” Permainan Tradisional yang Menyimpan Jejak Sejarah

 

Oleh: Fitri Handayani (Mahasiswa PGSD Ummuba)

Kalau kita melihat anak-anak bermain engklek, yang tampak mungkin hanya beberapa kotak yang digambar di tanah, sebuah batu kecil sebagai gaco, lalu anak-anak melompat dengan satu kaki dari satu kotak ke kotak lainnya. Sederhana sekali. Tidak membutuhkan gawai, baterai, koneksi internet, atau peralatan mahal.

Sayang, di balik kesederhanaannya, engklek menyimpan cerita yang cukup panjang. Permainan ini telah dikenal di berbagai daerah Indonesia dan memiliki banyak nama. Ada yang menyebutnya engklek, sunda manda, ingkling, teklek, dampu, dan beberapa nama lokal lainnya. Bentuk serta aturan permainannya pun dapat sedikit berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Yang menarik, justru sejarah asal-usul engklek belum dapat dipastikan secara mutlak.

Dari Mana Asal Engklek?

Sampai sekarang, belum ditemukan bukti sejarah yang benar-benar kuat untuk memastikan siapa pencipta pertama permainan engklek atau kapan permainan ini pertama kali muncul di Indonesia. Karena itu, cerita tentang asal-usul engklek sebaiknya dipahami sebagai dugaan sejarah dan bagian dari perkembangan tradisi, bukan sebagai fakta tunggal yang sudah terbukti.

Salah satu pendapat yang cukup populer menghubungkan permainan ini dengan masa kolonial Belanda. Dalam sejumlah sumber Indonesia, engklek atau sunda manda disebut berkaitan dengan istilah Belanda “zondag-maandag”, yang kemudian dipercaya mengalami perubahan penyebutan di masyarakat menjadi “sunda manda”. Dugaan tersebut menyebutkan bahwa permainan ini berkembang di Nusantara pada masa kolonial dan kemudian beradaptasi menjadi permainan anak-anak di berbagai daerah.

Tetapi, ada satu hal penting yang perlu dicatat. Hubungan antara engklek dan “zondag-maandag” belum didukung bukti dokumenter yang cukup untuk disebut sebagai asal-usul yang pasti. Karena itu, narasi tersebut lebih tepat disebut sebagai salah satu versi sejarah yang berkembang dalam masyarakat.

Pendapat lainnya menghubungkan engklek dengan permainan hopscotch yang dikenal di berbagai wilayah dunia. Bentuk dasarnya memang memiliki kemiripan, pemain melompat menggunakan satu kaki pada petak-petak yang dibuat di permukaan tanah. Sejumlah literatur bahkan mengaitkan permainan sejenis dengan masa Romawi Kuno. Belum dijelaskan, kemiripan bentuk permainan tidak otomatis membuktikan bahwa engklek Indonesia secara langsung berasal dari permainan tersebut.

Bisa disimpulkan, sejarah engklek masih menyisakan ruang untuk penelitian lebih lanjut. Bisa jadi permainan ini mengalami perjalanan budaya yang panjang, mengalami perubahan bentuk dan aturan, kemudian beradaptasi dengan lingkungan masyarakat tempat permainan itu berkembang.

Dari Satu Daerah ke Daerah Lain, Namanya Bisa Berbeda. Salah satu hal menarik dari engklek adalah keberagaman namanya.

Di Jawa, permainan ini dikenal luas sebagai engklek atau ingkling. Di beberapa daerah dikenal sebagai sunda manda, sementara daerah lainnya memiliki penyebutan tersendiri. Permainan dengan pola dan prinsip yang serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perbedaan nama tersebut justru menunjukkan bahwa permainan tradisional tidak selalu berkembang dalam satu bentuk yang seragam. Ketika sebuah permainan berpindah dari satu komunitas ke komunitas lainnya, masyarakat dapat memberikan nama, aturan, bentuk petak, bahkan cara bermain yang sesuai dengan lingkungan budaya mereka.

Jadi, engklek bukan sekadar satu permainan dengan satu nama. Engklek dapat dilihat sebagai bagian dari kekayaan permainan rakyat Nusantara yang mengalami proses adaptasi budaya.

Mengapa Engklek Tidak Sekadar Permainan?

Di sinilah menariknya permainan tradisional.

Engklek memang terlihat seperti permainan melompat. Tetapi, ketika dimainkan, anak sebenarnya sedang melakukan banyak aktivitas sekaligus. Permainan ini harus menjaga keseimbangan tubuh, mengatur gerakan kaki, memperkirakan jarak lemparan, berkonsentrasi pada sasaran, mengikuti aturan, menunggu giliran, dan menerima konsekuensi ketika melakukan kesalahan.

Penelitian tentang permainan sunda manda menunjukkan bahwa permainan ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan fisik-motorik, khususnya kemampuan melompat atau meloncat.

Bahkan dari perspektif pembelajaran, pola petak engklek dapat dikaitkan dengan konsep matematika. Penelitian etnomatematika menemukan adanya unsur geometri datar, seperti persegi, persegi panjang, dan setengah lingkaran dalam bentuk petak permainan engklek.

Artinya, ketika anak sedang bermain engklek, sebenarnya ada proses belajar yang berlangsung secara alami. Anak belajar keseimbangan melalui gerak, belajar aturan melalui permainan, belajar berhitung melalui petak, belajar mengambil keputusan melalui strategi, dan belajar bersosialisasi melalui interaksi dengan teman.

Engklek dan Dunia Anak Hari Ini

Ada sesuatu yang menarik dari permainan engklek di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan teknologi.

Untuk memainkan engklek, anak tidak perlu membuka aplikasi. Tidak ada loading. Tidak ada login. Tidak ada notifikasi. Cukup mencari tempat yang datar, menggambar petak, mencari sebuah batu kecil, lalu mengajak teman bermain.

Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatannya.

Permainan tradisional memberikan ruang bagi anak untuk bergerak dan berinteraksi secara langsung. Dalam permainan engklek, anak tidak hanya berhadapan dengan layar, tetapi juga dengan ruang nyata, teman bermain, aturan, tubuhnya sendiri, dan lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, mempertahankan permainan tradisional bukan berarti menolak perkembangan teknologi. Sebaliknya, permainan seperti engklek dapat ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya yang dapat dihidupkan kembali dalam kehidupan anak masa kini.

Jejak yang Tidak Boleh Hilang

Mungkin kita tidak pernah benar-benar tahu siapa orang pertama yang menggambar petak engklek di tanah.

Mungkin kita juga tidak akan pernah mendapatkan jawaban pasti apakah permainan ini benar-benar berasal dari zondag-maandag, memiliki hubungan dengan hopscotch, atau berkembang melalui proses budaya yang jauh lebih kompleks.

Tetapi satu hal dapat kita lihat dengan jelas, engklek telah menjadi bagian dari pengalaman bermain masyarakat Indonesia selama beberapa generasi.

Nilai pentingnya bukan hanya terletak pada siapa yang pertama kali menciptakannya. Nilai pentingnya justru terletak pada bagaimana permainan itu diwariskan, dimainkan, diadaptasi, dan dikenang oleh masyarakat.

Sebuah gambar sederhana di atas tanah ternyata dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah, budaya, pendidikan, gerak tubuh, matematika, dan kehidupan sosial. Maka, ketika seorang anak melompat dari satu petak ke petak lainnya, sesungguhnya ia tidak hanya sedang bermain.

Permainan engklek sedang menjejak satu bagian kecil dari perjalanan budaya kita.

Dan mungkin, dari sanalah kita belajar bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di museum. Kadang-kadang, ia justru masih menunggu kita di halaman rumah, di tanah lapang, atau di sebuah petak sederhana yang digambar dengan kapur.

Itulah jejak engklek. Jejak permainan sederhana yang masih menyimpan cerita.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?