Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

ISMI Beriman, Beradat dan Membangun Peradaban

Rapat KerjaWilayah (Rakerwil) I Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi pada 19 Agustus 2026 seharusnya tidak dibaca hanya sebagai agenda konsolidasi organisasi. Lebih dari itu, Rakerwil menjadi momentum untuk menguji kembali pertanyaan penting! untuk apa para sarjana Melayu berhimpun dan sejauh mana ilmu yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi masyarakat?

Pertanyaan diatas menjadi relevan ketika ISMI Jambi memasuki periode kepengurusan 2026–2030 di bawah kepemimpinan Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd. Pesan yang disampaikan cukup jelas “ISMI tidak boleh berhenti sebagai ruang berkumpulnya para sarjana, tetapi harus hadir menjawab persoalan masyarakat. Rakerwil pun diarahkan pada berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, UMKM, adat dan kebudayaan, keagamaan hingga pengabdian sosial”.

Bisa dipahami Kembali gagasan “Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban” memiliki makna strategis. Menurut penulis, ada satu fondasi yang perlu ditegaskan agar gagasan dicetuskan pengurus tidak kehilangan akar filosofisnya, yaitu iman. Dengan demikian, ISMI ke depan tidak hanya berilmu dan beradat, tetapi juga beriman, beradat, dan membangun peradaban.

Iman menjadi fondasi karena ilmu tanpa nilai dapat kehilangan arah. Sarjana memiliki kemampuan berpikir kritis, menguasai pengetahuan, teknologi, profesi dan berbagai disiplin keilmuan. Akan tetapi, kecerdasan intelektual belum otomatis melahirkan kebijaksanaan. Karena itu, tradisi Melayu yang menempatkan hubungan antara adat dan syarak memiliki relevansi kuat dalam membangun karakter sarjana.

Falsafah “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” bukan semata ungkapan budaya, tetapi dapat dibaca sebagai prinsip etis bahwa pengetahuan, perilaku sosial dan pembangunan harus memiliki landasan moral. Gagasan ini juga telah ditekankan dalam arah perjuangan ISMI Jambi.

Kedua adalah adat. Di tengah perubahan sosial dan digital yang berlangsung sangat cepat, adat jangan diposisikan sekadar sebagai pakaian, seremoni, bahasa simbolik atau pertunjukan budaya. Adat harus dihidupkan sebagai sistem nilai. Nilai musyawarah, gotong royong, penghormatan kepada orang lain, kepedulian sosial, tanggung jawab dan penyelesaian persoalan melalui pendekatan yang beradab merupakan modal sosial yang sangat penting bagi masyarakat modern.

Karena itu, ISMI dapat mengambil posisi strategis sebagai jembatan antara pengetahuan akademik dan pengetahuan lokal. Sarjana Melayu tidak cukup hanya meneliti adat, mereka perlu menerjemahkan nilai adat menjadi inovasi pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan UMKM, literasi generasi muda, kebijakan publik, pelestarian lingkungan, hingga pengembangan kebudayaan berbasis teknologi. Rakerwil I ISMI Jambi sendiri telah membuka ruang kerja pada sektor-sektor tersebut.

Ketiga adalah membangun peradaban. Istilah ini harus dimaknai lebih jauh daripada pembangunan fisik. Peradaban dibangun melalui kualitas manusia, ilmu pengetahuan, etika, kebudayaan, ekonomi yang berkeadilan dan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan zaman.

Di sinilah ISMI memiliki peluang besar. Organisasi sarjana dapat menjadi think tank daerah yang menghasilkan gagasan, kajian dan rekomendasi berbasis pengetahuan. ISMI dapat membangun forum akademik, pusat kajian Melayu, program literasi masyarakat, pendampingan UMKM, penguatan kapasitas generasi muda, dokumentasi digital kebudayaan, hingga ruang dialog antara pemerintah, akademisi, tokoh adat, dunia usaha dan masyarakat.

ISMI juga perlu membangun ukuran keberhasilan yang sederhana tetapi tegas, berapa banyak masalah masyarakat yang berhasil dibantu, berapa banyak gagasan yang diterapkan, berapa banyak generasi muda yang memperoleh manfaat, dan perubahan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat? Dengan ukuran seperti itu, ISMI tidak sekadar besar secara struktur, tetapi besar dalam dampak.

Pada akhirnya, gelar sarjana bukanlah titik akhir pendidikan. Kaum sarjana merupakan amanah sosial. Sarjana Melayu memiliki pengetahuan, jaringan, pengalaman dan kapasitas intelektual yang dapat digunakan untuk memperkuat Jambi. Karena itu, seruan agar “sarjana Melayu turun tangan” sesungguhnya bukan sekadar ajakan berorganisasi, melainkan panggilan moral untuk mengembalikan ilmu kepada masyarakat.

ISMI masa depan harus menjadi rumah besar yang mempertemukan iman, ilmu dan adat; ruang tempat gagasan dilahirkan, nilai dirawat, dan karya diwujudkan. Dari sanalah peradaban dibangun, bukan hanya dengan banyaknya sarjana, tetapi dengan seberapa besar ilmu mereka menjadi cahaya bagi masyarakat.


Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?