Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

“Kajang Lako” Rumah yang Menyimpan Jejak Orang Batin


Oleh: Siti Nursalma (Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris, Ummuba)

Bayangkan kita berjalan memasuki sebuah kampung tua di Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi. Di sepanjang jalan, rumah-rumah kayu berdiri menghadap ke jalan. Bentuknya sederhana, tetapi memiliki ciri yang mudah dikenali, rumah panggung dengan atap yang melengkung ke atas seperti perahu.

Di tempat seperti inilah kita dapat menemukan jejak kehidupan Orang Batin, salah satu komunitas masyarakat di Provinsi Jambi yang hingga kini masih mempertahankan adat dan warisan budaya leluhurnya.

Salah satu warisan yang paling menarik adalah KajangLako, yang juga dikenal sebagai Rumah Lamo atau Rumah Tuo. Rumah ini bukan hanya tempat tinggal. Di dalamnya tersimpan cerita tentang keluarga, adat, hubungan manusia dengan alam, tata krama, hingga cara masyarakat menyelesaikan persoalan bersama.

Dari Cerita Leluhur hingga Kampung Lamo

Asal-usul masyarakat Batin memiliki cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu versi menyebutkan bahwa masyarakat Batin berasal dari sekitar 60 tumbi atau keluarga yang berpindah dari Koto Rayo. Mereka kemudian berkembang menjadi kelompok masyarakat yang membentuk lima dusun asal dalam wilayah Marga Batin V.

Kisah ini merupakan bagian dari tradisi sejarah masyarakat dan tidak seluruh detailnya dapat diverifikasi seperti catatan sejarah modern. Namun, cerita itu penting karena menunjukkan bagaimana masyarakat Batin memahami asal-usul dan perjalanan leluhur mereka.

Salah satu kawasan yang hingga kini menjadi jejak penting masyarakat Batin adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang. Rumah-rumah tradisional di kawasan ini dahulu dibangun berjajar menghadap jalan, sementara di bagian belakang rumah terdapat lumbung untuk menyimpan padi. Pola permukiman tersebut memperlihatkan bahwa rumah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Mengapa Atapnya Seperti Perahu?

Hal pertama yang biasanya menarik perhatian ketika melihat Kajang Lako adalah bagian atapnya.

Bubungan rumah dibuat melengkung ke atas sehingga dari kejauhan tampak menyerupai bentuk perahu. Bentuk ini dikenal dengan beberapa istilah lokal, antara lain lipat kajang. Dalam tradisi setempat juga dikenal istilah gajah mabuk, yang dikaitkan dengan cerita mengenai pembuat rumah yang sedang mengalami persoalan asmara.

Cerita tentang “gajah mabuk” tentu lebih tepat dipahami sebagai bagian dari cerita budaya masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang harus dibuktikan secara literal.

Di balik bentuknya yang khas, konstruksi atap juga memiliki fungsi praktis. Bentuknya membantu mengalirkan air hujan dan mendukung sirkulasi udara di dalam rumah. Kajang Lako memiliki bentuk dasar persegi panjang, dengan ukuran tradisional sekitar 12 × 9 meter.

Artinya, keindahan rumah ini tidak berdiri sendiri. Bentuk arsitekturnya lahir dari perpaduan antara kebutuhan, lingkungan, pengetahuan lokal, dan nilai budaya.

Rumah yang Mengajarkan Tata Krama

Kajang Lako memiliki beberapa ruang dengan fungsi yang berbeda. Ada pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, balik melintang, balik menalam, serta ruang atas atau penteh.

Pelamban, misalnya, berada di bagian depan dan dapat digunakan sebagai tempat menunggu tamu sebelum dipersilakan masuk. Ruang masinding berkaitan dengan tempat berkumpul kaum laki-laki, sedangkan ruang tengah memiliki fungsi yang berbeda dalam kegiatan adat. Sementara balik melintang merupakan ruang yang memiliki kedudukan khusus dalam kegiatan adat.

Menariknya, tata ruang tersebut memperlihatkan bahwa rumah sekaligus menjadi bagian dari tata kehidupan masyarakat.

Bahkan pintu masuk rumah dibuat relatif rendah sehingga orang yang masuk harus menundukkan kepala. Secara budaya, gerakan sederhana tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.

Kajang Lako sebenarnya sedang “mengajarkan” sesuatu kepada penghuninya, bagaimana menghormati orang lain, bagaimana menempatkan diri, dan bagaimana hidup bersama dalam aturan adat.

Ukiran yang Bercerita tentang Alam

Cobalah perhatikan bagian dinding dan beberapa bagian konstruksi rumah. Kita akan menemukan berbagai ukiran yang mengambil inspirasi dari lingkungan sekitar.

Motif bungo tanjung, tampuk manggis, dan bungo jeruk merupakan beberapa contoh ragam hias flora. Selain itu, terdapat pula motif fauna seperti ikan yang telah distilir menjadi bentuk dekoratif.

Bagi masyarakat tradisional, alam bukan hanya tempat untuk mengambil sumber kehidupan. Alam juga menjadi sumber inspirasi dan simbol yang dituangkan ke dalam karya budaya.

Karena itu, ukiran pada Kajang Lako dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi budaya. Masyarakat meninggalkan pesan melalui kayu dan ornamen, bukan melalui tulisan.

Rumah yang Mengajarkan Gotong Royong

Kajang Lako juga menyimpan nilai yang masih relevan hingga sekarang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah menemukan bahwa Kajang Lako mengandung nilai historis, religius, kekeluargaan, gotong royong, dan kerja sama. Nilai-nilai tersebut tidak hanya terlihat dari bentuk bangunan, tetapi juga dari proses pembangunan dan kehidupan sosial yang melingkupinya.

Inilah yang membuat rumah adat tidak cukup dipahami hanya sebagai bangunan tua.

Di balik kayu, tiang, atap, dan ukiran terdapat pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Ada pengetahuan tentang bagaimana membangun rumah.

Ada aturan tentang bagaimana menggunakan ruang.

Ada nilai tentang bagaimana menerima tamu.

Ada semangat bekerja bersama.

Dan ada kesadaran bahwa kehidupan manusia selalu berhubungan dengan lingkungan di sekitarnya.

Kajang Lako: Bukan Sekadar Rumah Tua

Hari ini, ketika rumah modern semakin berkembang dan bentuk bangunan semakin seragam, Kajang Lako mengingatkan kita bahwa sebuah rumah dapat menjadi identitas budaya.

Indentias budaya dapat menceritakan dari mana sebuah masyarakat berasal, bagaimana mereka hidup, apa yang mereka yakini, dan nilai apa yang mereka wariskan.

Karena itu, menjaga Kajang Lako bukan hanya berarti mempertahankan sebuah bangunan lama.

Kita sedang menjaga ingatan budaya.

Kita sedang merawat cerita tentang Orang Batin.

Dan yang tidak kalah penting, kita sedang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di dalam buku.

Kadang-kadang, sejarah berdiri di depan mata kita-dalam bentuk sebuah rumah tua, ukiran bunga, atap yang menyerupai perahu, dan ruang-ruang yang masih menyimpan cerita.

Kajang Lako adalah rumah yang tidak hanya menjadi tempat manusia tinggal, tetapi juga tempat sebuah kebudayaan menjaga ingatannya.

Terima kasih, jika ada ketidak sesuai dalam tulisan ini dengan fakta sejarah bisa diterbitkan artikel serupa biar semua informasi bisa bermakna secara ilmiah dan untuk pembaca mendapat informasi yang beragam atas kebenaran sejarah.

Jejak Literasi-Menelusuri Jejak, Menemukan Makna.


Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?