- Diposting oleh : Dedek Helida Putra
- pada tanggal : Agustus 17, 2026
Oleh: Siti Nursalma (Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris, Ummuba)
Bayangkan kita berjalan memasuki sebuah kampung tua di
Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi. Di sepanjang jalan,
rumah-rumah kayu berdiri menghadap ke jalan. Bentuknya sederhana, tetapi
memiliki ciri yang mudah dikenali, rumah panggung dengan atap yang melengkung
ke atas seperti perahu.
Di tempat seperti inilah kita dapat menemukan jejak
kehidupan Orang Batin, salah satu komunitas masyarakat di Provinsi Jambi
yang hingga kini masih mempertahankan adat dan warisan budaya leluhurnya.
Salah satu warisan yang paling menarik adalah KajangLako, yang juga dikenal sebagai Rumah Lamo atau Rumah Tuo. Rumah ini
bukan hanya tempat tinggal. Di dalamnya tersimpan cerita tentang keluarga,
adat, hubungan manusia dengan alam, tata krama, hingga cara masyarakat
menyelesaikan persoalan bersama.
Dari Cerita
Leluhur hingga Kampung Lamo
Asal-usul masyarakat Batin memiliki cerita yang
diwariskan secara turun-temurun. Salah satu versi menyebutkan bahwa masyarakat
Batin berasal dari sekitar 60 tumbi atau keluarga yang berpindah dari
Koto Rayo. Mereka kemudian berkembang menjadi kelompok masyarakat yang
membentuk lima dusun asal dalam wilayah Marga Batin V.
Kisah ini merupakan bagian dari tradisi sejarah
masyarakat dan tidak seluruh detailnya dapat diverifikasi seperti catatan
sejarah modern. Namun, cerita itu penting karena menunjukkan bagaimana
masyarakat Batin memahami asal-usul dan perjalanan leluhur mereka.
Salah satu kawasan yang hingga kini menjadi jejak penting
masyarakat Batin adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang. Rumah-rumah
tradisional di kawasan ini dahulu dibangun berjajar menghadap jalan, sementara
di bagian belakang rumah terdapat lumbung untuk menyimpan padi. Pola permukiman
tersebut memperlihatkan bahwa rumah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi
bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Mengapa
Atapnya Seperti Perahu?
Hal pertama yang biasanya menarik perhatian ketika
melihat Kajang Lako adalah bagian atapnya.
Bubungan rumah dibuat melengkung ke atas sehingga dari
kejauhan tampak menyerupai bentuk perahu. Bentuk ini dikenal dengan beberapa
istilah lokal, antara lain lipat kajang. Dalam tradisi setempat juga
dikenal istilah gajah mabuk, yang dikaitkan dengan cerita mengenai
pembuat rumah yang sedang mengalami persoalan asmara.
Cerita tentang “gajah mabuk” tentu lebih tepat
dipahami sebagai bagian dari cerita budaya masyarakat, bukan sebagai fakta
sejarah yang harus dibuktikan secara literal.
Di balik bentuknya yang khas, konstruksi atap juga
memiliki fungsi praktis. Bentuknya membantu mengalirkan air hujan dan mendukung
sirkulasi udara di dalam rumah. Kajang Lako memiliki bentuk dasar persegi
panjang, dengan ukuran tradisional sekitar 12 × 9 meter.
Artinya, keindahan rumah ini tidak berdiri sendiri.
Bentuk arsitekturnya lahir dari perpaduan antara kebutuhan, lingkungan,
pengetahuan lokal, dan nilai budaya.
Rumah yang
Mengajarkan Tata Krama
Kajang Lako memiliki beberapa ruang dengan fungsi yang
berbeda. Ada pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, balik
melintang, balik menalam, serta ruang atas atau penteh.
Pelamban, misalnya, berada di bagian depan dan dapat
digunakan sebagai tempat menunggu tamu sebelum dipersilakan masuk. Ruang
masinding berkaitan dengan tempat berkumpul kaum laki-laki, sedangkan ruang
tengah memiliki fungsi yang berbeda dalam kegiatan adat. Sementara balik
melintang merupakan ruang yang memiliki kedudukan khusus dalam kegiatan
adat.
Menariknya, tata ruang tersebut memperlihatkan bahwa
rumah sekaligus menjadi bagian dari tata kehidupan masyarakat.
Bahkan pintu masuk rumah dibuat relatif rendah sehingga
orang yang masuk harus menundukkan kepala. Secara budaya, gerakan sederhana
tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.
Kajang Lako sebenarnya sedang “mengajarkan” sesuatu
kepada penghuninya, bagaimana menghormati orang lain, bagaimana menempatkan
diri, dan bagaimana hidup bersama dalam aturan adat.
Ukiran yang
Bercerita tentang Alam
Cobalah perhatikan bagian dinding dan beberapa bagian
konstruksi rumah. Kita akan menemukan berbagai ukiran yang mengambil inspirasi
dari lingkungan sekitar.
Motif bungo tanjung, tampuk manggis, dan bungo jeruk
merupakan beberapa contoh ragam hias flora. Selain itu, terdapat pula motif
fauna seperti ikan yang telah distilir menjadi bentuk dekoratif.
Bagi masyarakat tradisional, alam bukan hanya tempat
untuk mengambil sumber kehidupan. Alam juga menjadi sumber inspirasi dan simbol
yang dituangkan ke dalam karya budaya.
Karena itu, ukiran pada Kajang Lako dapat dibaca sebagai
bentuk komunikasi budaya. Masyarakat meninggalkan pesan melalui kayu dan
ornamen, bukan melalui tulisan.
Rumah yang
Mengajarkan Gotong Royong
Kajang Lako juga menyimpan nilai yang masih relevan
hingga sekarang.
Penelitian yang diterbitkan dalam Criksetra: Jurnal
Pendidikan Sejarah menemukan bahwa Kajang Lako mengandung nilai historis,
religius, kekeluargaan, gotong royong, dan kerja sama. Nilai-nilai tersebut
tidak hanya terlihat dari bentuk bangunan, tetapi juga dari proses pembangunan
dan kehidupan sosial yang melingkupinya.
Inilah yang membuat rumah adat tidak cukup dipahami hanya
sebagai bangunan tua.
Di balik kayu, tiang, atap, dan ukiran terdapat
pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Ada pengetahuan tentang bagaimana membangun rumah.
Ada aturan tentang bagaimana menggunakan ruang.
Ada nilai tentang bagaimana menerima tamu.
Ada semangat bekerja bersama.
Dan ada kesadaran bahwa kehidupan manusia selalu
berhubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
Kajang
Lako: Bukan Sekadar Rumah Tua
Hari ini, ketika rumah modern semakin berkembang dan
bentuk bangunan semakin seragam, Kajang Lako mengingatkan kita bahwa sebuah
rumah dapat menjadi identitas budaya.
Indentias budaya dapat menceritakan dari mana sebuah
masyarakat berasal, bagaimana mereka hidup, apa yang mereka yakini, dan nilai
apa yang mereka wariskan.
Karena itu, menjaga Kajang Lako bukan hanya berarti
mempertahankan sebuah bangunan lama.
Kita sedang menjaga ingatan budaya.
Kita sedang merawat cerita tentang Orang Batin.
Dan yang tidak kalah penting, kita sedang memberikan
kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal bahwa sejarah tidak selalu
tersimpan di dalam buku.
Kadang-kadang, sejarah berdiri di depan mata kita-dalam
bentuk sebuah rumah tua, ukiran bunga, atap yang menyerupai perahu, dan
ruang-ruang yang masih menyimpan cerita.
Kajang Lako adalah rumah yang tidak
hanya menjadi tempat manusia tinggal, tetapi juga tempat sebuah kebudayaan
menjaga ingatannya.
Terima kasih, jika ada ketidak sesuai
dalam tulisan ini dengan fakta sejarah bisa diterbitkan artikel serupa biar
semua informasi bisa bermakna secara ilmiah dan untuk pembaca mendapat
informasi yang beragam atas kebenaran sejarah.
Jejak Literasi-Menelusuri Jejak, Menemukan Makna.
