Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Ketika Pendidik Kehilangan Gairah Mengajar

Sebuah Refleksi tentang Makna Menjadi Pendidik

Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak pernah berani kita tanyakan kepada seorang Pendidik!

“Apakah para pendidik masih mencintai pekerjaan ini?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jawabannya bisa sangat panjang.

Bayangkan suatu hari seorang pendidik berdiri di hadapan mahasiswanya. Pendidik tidak langsung membuka slide presentasi. Tidak pula memulai kuliah dengan definisi, teori, atau tujuan pembelajaran.

Pendidik hanya diam beberapa saat, kemudian berkata,

“Mahasiswa-mahasiswa, saya ingin bercerita sesuatu. Saya masih mencintai dunia pendidikan ini. Sangat mencintainya. Tetapi belakangan ini, saya merasa ada sesuatu yang hilang.”

Para mahasiswa mulai memperhatikan.

“Apa yang hilang, Pak?” Pendidik itu tersenyum.

“Rasa ingin tahu.” Ruangan menjadi hening.

“Dulu, setiap kali masuk kelas, saya selalu bertanya! hari ini anak-anak akan menemukan apa? Pertanyaan apa yang akan mereka ajukan? Gagasan baru apa yang akan muncul? Saya pulang dari kelas dengan membawa banyak pertanyaan.”

Pendidik berhenti sejenak,

“Tetapi perlahan, saya mulai mengajar hanya karena jadwal. Masuk kelas karena ada kewajiban. Menyampaikan materi karena ada target. Mengejar administrasi karena ada tuntutan. Saya masih mengajar, tetapi saya mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar materi pembelajaran.”

Seorang mahasiswa bertanya,

“Apakah Bapak sudah tidak mencintai profesi sebagai Pendidik?”

“Bukan,” jawabnya.

“Saya masih mencintainya.”

“Lalu apa masalahnya?”

Pendidik itu kemudian berkata,

“Saya kehilangan gairah untuk menemukan makna di dalamnya”

Barangkali di situlah persoalan pendidikan kita sering kali bermula.

Seorang guru bisa saja tetap datang ke sekolah. Seorang Pendidik tetap masuk ke ruang kuliah. RPS tetap disusun. Materi tetap disampaikan. Presensi tetap diisi. Nilai tetap diberikan. Bahkan administrasi pembelajaran tetap lengkap.

Tetapi pendidikan tidak hanya membutuhkan orang yang hadir secara fisik.

Pendidikan membutuhkan pendidik yang hadir secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Sebab peserta didik dapat merasakan perbedaannya.

Mereka tahu kapan gurunya hanya sedang mengajar dan kapan gurunya benar-benar sedang mendidik.

Mereka tahu kapan sebuah kuliah hanya menjadi penyampaian materi dan kapan sebuah pertemuan berubah menjadi pengalaman yang membuat mereka berpikir.

Mereka tahu kapan seorang dosen berbicara karena kewajiban dan kapan Pendidik berbicara karena ada sesuatu yang benar-benar ingin diwariskan.

Karena itu, kepada para Pendidik, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Berapa banyak materi yang sudah saya selesaikan?”

Melainkan! “Apakah masih ada sesuatu yang membuat saya bersemangat ketika memasuki ruang kelas?”

Apakah kita masih penasaran dengan pertanyaan mahasiswa?

Apakah kita masih tertarik mendengar cara berpikir peserta didik?

Apakah kita masih bersedia belajar dari kesalahan mereka?

Apakah kita masih merasa bahagia ketika melihat seorang siswa yang awalnya tidak memahami sesuatu, kemudian tiba-tiba berkata,

“Oh, sekarang saya mengerti, Pak/Bu.”

Jika momen itu masih membuat hati kita bergetar, mungkin gairah itu masih ada.

Sebab menjadi Pendidik bukan hanya tentang memiliki pengetahuan untuk diajarkan.

Menjadi guru adalah tentang memiliki gairah untuk menyalakan pengetahuan dalam diri orang lain.

Dan mungkin inilah filosofi yang sering terlupakan;

Anak-anak tidak hanya membutuhkan guru yang pintar. Mereka membutuhkan guru yang masih memiliki rasa ingin tahu.

Mahasiswa tidak hanya membutuhkan Pendidik yang menguasai teori. Mereka membutuhkan Pendidik yang masih memiliki semangat untuk berpikir, bertanya, mencari, dan menemukan.

Sebab gairah seorang pendidik sering kali menjadi energi pertama yang membuat peserta didiknya ikut bergairah untuk belajar.

Maka, jika suatu hari kita merasa lelah mengajar, jangan buru-buru bertanya “Mengapa saya sudah tidak sanggup?”

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah “Kapan terakhir kali saya benar-benar merasa hidup ketika mengajar?”

Barangkali yang perlu kita pulihkan bukan profesinya.

Bukan kelasnya.

Bukan bahkan peserta didiknya.

Tetapi alasan mengapa dahulu kita memilih menjadi pendidik.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar pekerjaan yang kita jalankan setiap hari.

Pendidikan adalah gairah yang harus terus kita rawat, agar api belajar tidak padam di dalam diri generasi yang kita didik

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?