- Diposting oleh : Dedek Helida Putra
- pada tanggal : Agustus 21, 2026
Sebuah
Refleksi tentang Makna Menjadi Pendidik
Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak pernah berani kita tanyakan kepada seorang Pendidik!
“Apakah
para pendidik masih mencintai pekerjaan ini?”
Pertanyaan
itu terdengar sederhana. Namun, jawabannya bisa sangat panjang.
Bayangkan suatu hari seorang pendidik berdiri di hadapan mahasiswanya. Pendidik tidak langsung membuka slide presentasi. Tidak pula memulai kuliah dengan definisi, teori, atau tujuan pembelajaran.
Pendidik hanya diam beberapa saat,
kemudian berkata,
“Mahasiswa-mahasiswa,
saya ingin bercerita sesuatu. Saya masih mencintai dunia pendidikan ini. Sangat
mencintainya. Tetapi belakangan ini, saya merasa ada sesuatu yang hilang.”
Para
mahasiswa mulai memperhatikan.
“Apa yang hilang, Pak?” Pendidik itu tersenyum.
“Rasa
ingin tahu.” Ruangan menjadi hening.
“Dulu,
setiap kali masuk kelas, saya selalu bertanya! hari ini anak-anak akan
menemukan apa? Pertanyaan apa yang akan mereka ajukan? Gagasan baru apa yang
akan muncul? Saya pulang dari kelas dengan membawa banyak pertanyaan.”
Pendidik berhenti sejenak,
“Tetapi
perlahan, saya mulai mengajar hanya karena jadwal. Masuk kelas karena ada
kewajiban. Menyampaikan materi karena ada target. Mengejar administrasi karena
ada tuntutan. Saya masih mengajar, tetapi saya mulai kehilangan sesuatu yang
jauh lebih penting daripada sekadar materi pembelajaran.”
Seorang
mahasiswa bertanya,
“Apakah Bapak sudah tidak mencintai profesi sebagai Pendidik?”
“Bukan,”
jawabnya.
“Saya
masih mencintainya.”
“Lalu
apa masalahnya?”
Pendidik itu kemudian berkata,
“Saya
kehilangan gairah untuk menemukan makna di dalamnya”
Barangkali
di situlah persoalan pendidikan kita sering kali bermula.
Seorang guru bisa saja tetap datang ke sekolah. Seorang Pendidik tetap masuk ke ruang kuliah. RPS tetap disusun. Materi tetap disampaikan. Presensi tetap diisi. Nilai tetap diberikan. Bahkan administrasi pembelajaran tetap lengkap.
Tetapi
pendidikan tidak hanya membutuhkan orang yang hadir secara fisik.
Pendidikan
membutuhkan pendidik yang hadir
secara intelektual, emosional, dan spiritual.
Sebab
peserta didik dapat merasakan perbedaannya.
Mereka
tahu kapan gurunya hanya sedang mengajar dan kapan gurunya benar-benar sedang
mendidik.
Mereka
tahu kapan sebuah kuliah hanya menjadi penyampaian materi dan kapan sebuah
pertemuan berubah menjadi pengalaman yang membuat mereka berpikir.
Mereka
tahu kapan seorang dosen berbicara karena kewajiban dan kapan Pendidik berbicara
karena ada sesuatu yang benar-benar ingin diwariskan.
Karena itu, kepada para Pendidik, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Berapa banyak materi yang sudah saya selesaikan?”
Melainkan!
“Apakah masih ada
sesuatu yang membuat saya bersemangat ketika memasuki ruang kelas?”
Apakah
kita masih penasaran dengan pertanyaan mahasiswa?
Apakah
kita masih tertarik mendengar cara berpikir peserta didik?
Apakah
kita masih bersedia belajar dari kesalahan mereka?
Apakah
kita masih merasa bahagia ketika melihat seorang siswa yang awalnya tidak
memahami sesuatu, kemudian tiba-tiba berkata,
“Oh,
sekarang saya mengerti, Pak/Bu.”
Jika
momen itu masih membuat hati kita bergetar, mungkin gairah itu masih ada.
Sebab
menjadi Pendidik bukan hanya tentang memiliki pengetahuan untuk diajarkan.
Menjadi
guru adalah tentang memiliki gairah
untuk menyalakan pengetahuan dalam diri orang lain.
Dan
mungkin inilah filosofi yang sering terlupakan;
Anak-anak
tidak hanya membutuhkan guru yang pintar. Mereka membutuhkan guru yang masih
memiliki rasa ingin tahu.
Mahasiswa tidak hanya membutuhkan Pendidik yang menguasai teori. Mereka membutuhkan Pendidik yang masih memiliki semangat untuk berpikir, bertanya, mencari, dan menemukan.
Sebab
gairah seorang pendidik sering kali menjadi energi pertama yang membuat peserta
didiknya ikut bergairah untuk belajar.
Maka, jika suatu hari kita merasa lelah mengajar, jangan buru-buru bertanya “Mengapa saya sudah tidak sanggup?”
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah “Kapan terakhir kali saya benar-benar merasa hidup ketika mengajar?”
Barangkali
yang perlu kita pulihkan bukan profesinya.
Bukan
kelasnya.
Bukan
bahkan peserta didiknya.
Tetapi
alasan mengapa
dahulu kita memilih menjadi pendidik.
Karena
pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar pekerjaan yang kita jalankan setiap
hari.
Pendidikan adalah gairah yang harus terus kita rawat, agar api belajar tidak padam di dalam diri generasi yang kita didik
