- Diposting oleh : Dedek Helida Putra
- pada tanggal : Agustus 21, 2026
Oleh: Livia Nafidza Shadrina (Mahasiswa PBI Ummuba)
Bayangkan sebuah kampung di Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Jambi, pada
masa ketika pesta budaya belum mengenal panggung megah dan pengeras suara
seperti sekarang. Ketika musim bertani tiba, masyarakat turun ke sawah dan
ladang bersama-sama. Mereka bekerja, saling membantu, dan menyelesaikan
pekerjaan yang berat dengan semangat gotong royong. Tradisi bekerja bersama ini
dikenal sebagai beselang.
Setelah pekerjaan selesai, suasana kampung belum tentu langsung
berakhir. Ada waktu untuk beristirahat, berkumpul, bercanda, berbalas pantun,
dan menikmati hiburan. Para bujang dan gadis pun memiliki ruang untuk bertemu.
Dari suasana kehidupan masyarakat seperti inilah Tari Tauh tumbuh dan
diwariskan.
Tari Tauh merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Rantau
Pandan, Kabupaten Bungo. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa tarian ini pada
awalnya berkaitan erat dengan tradisi pertanian dan kegiatan beselang. Dalam
perkembangannya, Tari Tauh kemudian menjadi bagian penting dalam berbagai
kegiatan adat, terutama Berelek Gedang, yaitu pesta perkawinan adat
masyarakat Rantau Pandan.
Ketika Sawah Menjadi Ruang
Pertemuan
Menariknya, sejarah Tari Tauh tidak bermula dari gedung kesenian. Tetapi
justru lahir dari kehidupan masyarakat
sehari-hari.
Pada saat beselang, masyarakat tidak hanya bekerja bersama.
Tradisi masyarakat inijuga menciptakan ruang sosial bagi warga untuk
berinteraksi. Setelah pekerjaan selesai, terutama setelah kegiatan menuai padi,
suasana menjadi lebih santai. Bujang dan gadis berkumpul, kemudian menari dan
menikmati lantunan musik tradisional.
Di sinilah Tari Tauh memiliki makna yang lebih dalam!
Tarian ini bukan sekadar gerakan mengikuti irama. Tarian Tauh menjadi
gambaran tentang bagaimana muda-mudi pada masa lalu bergaul, bertemu, dan
membangun hubungan sosial dalam batas-batas adat yang berlaku. Penelitian
mengenai Tari Tauh bahkan menyebut bahwa dalam tradisi perkawinan adat, tarian
ini dahulu dapat menjadi ruang bagi pemuda-pemudi untuk saling mengenal hingga
mencari pasangan.
Tari Tauh juga dapat dibaca sebagai cermin kehidupan sosial masyarakat
Bungo pada masa lalu.
Tauh “Sebuah Ajakan untuk Bertemu”
Ada cerita menarik di balik namanya.
Salah satu penelitian tentang Tari Tauh menjelaskan bahwa istilah “Tauh”
berkaitan dengan kata “nauh”, yang berarti temu atau bertemu. Pertemuan pada
masa itu merujuk pada pertemuan bujang dan gadis untuk menjalin silaturahmi.
Sementara dalam pemaknaan masyarakat lainnya, “tauh” juga dipahami
sebagai ajakan atau panggilan untuk menari.
Perbedaan pemaknaan inijustru memperlihatkan kekayaan tradisi lisan
masyarakat pada masa lalu yang punuh literasi kearifan lokal.
Ada satu benang merah yang dapat kita temukan “Tari Tauh adalah
tentang pertemuan”
Pertemuan antara manusia dengan manusia, antara generasi muda dengan
adat, dan antara kegembiraan dengan kehidupan bersama.
Pada masa lalu, ketika teknologi komunikasi belum seperti sekarang,
halaman rumah dan ruang terbuka menjadi tempat masyarakat bertemu. Tari, musik,
dan pantun menjadi bahasa untuk membangun hubungan.
Gerak yang Menggambarkan
Pergaulan
Tari Tauh biasanya dibawakan oleh pasangan penari laki-laki dan
perempuan. Gerakannya tidak sekadar dibuat untuk menghasilkan keindahan visual,
tetapi juga menggambarkan tata cara pergaulan muda-mudi.
Dalam kajian koreografi Tari Tauh ditemukan sejumlah ragam gerak,
seperti tepuk, limbai, dan ngebeng pada penari laki-laki, serta jinjit
dan nyenting pada penari perempuan. Pola geraknya memperlihatkan adanya
interaksi antara penari laki-laki dan perempuan, tetapi tetap menjaga jarak dan
batas yang menjadi bagian dari norma sosial masyarakat.
Karena itu, gerakan Tari Tauh dapat dipahami sebagai bahasa tubuh.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada pesan singkat.
Gerakan dan irama sudah cukup menjadi sarana untuk membangun komunikasi.
Ketika Pantun Bertemu Krinok
Tari Tauh juga tidak dapat dipisahkan dari krinok, seni vokal
tradisional masyarakat Rantau Pandan.
Krinok hadir melalui lantunan suara dan pantun yang dapat mengungkapkan
berbagai perasaan. Ada kegembiraan, kesedihan, harapan, bahkan ungkapan
ketertarikan terhadap seseorang. Pada pertunjukan Tari Tauh, krinok kemudian
berpadu dengan alat musik tradisional seperti gong, gendang, ketipung,
seruling, biola, dan kulintang kayu.
Bayangkan suasananya!
Malam mulai turun. Masyarakat berkumpul di halaman rumah. Suara musik
mulai terdengar. Pantun dilantunkan. Para penari memasuki ruang pertunjukan.
Bujang dan gadis bergerak mengikuti irama.
Pada saat seperti itu, tari bukan hanya tontonan.
Menari menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dari Beselang ke Berelek Gedang
Seiring perubahan zaman, fungsi Tari Tauh ikut berkembang.
Jika dahulu tarian ini sangat dekat dengan tradisi beselang dan
pergaulan muda-mudi, kini keberadaannya semakin kuat dalam kegiatan adat dan
pertunjukan budaya. Salah satu yang menajdi pentingnya tari tauh adalah Berelek
Gedang, pesta perkawinan adat dalam masyarakat Rantau Pandan.
Penelitian Universitas Jambi menunjukkan bahwa dalam acara silahturahmi
adat yang beranam Berelek Gedang, Tari Tauh tidak hanya berfungsi sebagai
hiburan. Tarian ini juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi, menjaga
persatuan, serta menegaskan identitas budaya masyarakat Rantau Pandan.
Pada masa perkembangannya, Tari Tauh juga dipentaskan pada acara penyambutan
dan kegiatan budaya lainnya. Artinya, tradisi ini tidak berhenti pada bentuk
masa lalu. Tetapi terus menyesuaikan diri dengan ruang kehidupan masyarakat
sekarang.
Warisan yang Tidak Boleh Berhenti
di Panggung
Mungkin yang paling penting dari Tari Tauh bukan hanya gerakannya.
Yang lebih penting adalah cerita di baliknya.
Tradisi ini mengingatkan kita pada masyarakat yang terbiasa bekerja
bersama. Pada sawah yang dikerjakan secara gotong royong. Pada halaman rumah
yang menjadi ruang pertemuan. Pada bujang dan gadis yang belajar berinteraksi
melalui aturan adat. Pada pantun yang menjadi cara menyampaikan perasaan. Dan
pada musik krinok yang membuat sebuah pertemuan menjadi lebih hidup.
Hari ini, ketika anak-anak muda semakin akrab dengan dunia digital, Tari
Tauh menghadapi tantangan yang sama dengan banyak kesenian tradisional lainnya!
bagaimana membuat generasi baru tidak hanya mengenal namanya, tetapi juga
memahami maknanya.
Sebab melestarikan Tari Tauh bukan sekadar mengajarkan anak muda cara
menari.
Kita perlu mengajarkan mengapa tarian itu lahir, nilai apa yang dibawanya,
dan cerita masyarakat seperti apa yang hidup di balik setiap gerakannya.
Pada akhirnya, Tari Tauh mengajarkan sebuah pesan yang sederhana.
Budaya lahir dari pertemuan. Juga bisa tumbuh dari
kebersamaan dan akan tetap hidup selama generasi berikutnya bersedia mengenal,
mempelajari, dan meneruskannya.
Dari sawah, tradi tumbuh.
Dari halaman rumah, tradisi diwariskan.
Dan hari ini, dari panggung budaya, Tari Tauh kembali mengajak kita
untuk mengenal jejak masyarakat Bungo yang semakin maju tradisi moderenya.
Jejak Literasi-Menelusuri Jejak, Menemukan Makna.
