Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

“Tari Tauh” Ketika Pertemuan Bujang-Gadis Menjadi Warisan Budaya

 

Oleh: Livia Nafidza Shadrina (Mahasiswa PBI Ummuba)

Bayangkan sebuah kampung di Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Jambi, pada masa ketika pesta budaya belum mengenal panggung megah dan pengeras suara seperti sekarang. Ketika musim bertani tiba, masyarakat turun ke sawah dan ladang bersama-sama. Mereka bekerja, saling membantu, dan menyelesaikan pekerjaan yang berat dengan semangat gotong royong. Tradisi bekerja bersama ini dikenal sebagai beselang.

Setelah pekerjaan selesai, suasana kampung belum tentu langsung berakhir. Ada waktu untuk beristirahat, berkumpul, bercanda, berbalas pantun, dan menikmati hiburan. Para bujang dan gadis pun memiliki ruang untuk bertemu. Dari suasana kehidupan masyarakat seperti inilah Tari Tauh tumbuh dan diwariskan.

Tari Tauh merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Rantau Pandan, Kabupaten Bungo. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa tarian ini pada awalnya berkaitan erat dengan tradisi pertanian dan kegiatan beselang. Dalam perkembangannya, Tari Tauh kemudian menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat, terutama Berelek Gedang, yaitu pesta perkawinan adat masyarakat Rantau Pandan.

Ketika Sawah Menjadi Ruang Pertemuan

Menariknya, sejarah Tari Tauh tidak bermula dari gedung kesenian. Tetapi  justru lahir dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pada saat beselang, masyarakat tidak hanya bekerja bersama. Tradisi masyarakat inijuga menciptakan ruang sosial bagi warga untuk berinteraksi. Setelah pekerjaan selesai, terutama setelah kegiatan menuai padi, suasana menjadi lebih santai. Bujang dan gadis berkumpul, kemudian menari dan menikmati lantunan musik tradisional.

Di sinilah Tari Tauh memiliki makna yang lebih dalam!

Tarian ini bukan sekadar gerakan mengikuti irama. Tarian Tauh menjadi gambaran tentang bagaimana muda-mudi pada masa lalu bergaul, bertemu, dan membangun hubungan sosial dalam batas-batas adat yang berlaku. Penelitian mengenai Tari Tauh bahkan menyebut bahwa dalam tradisi perkawinan adat, tarian ini dahulu dapat menjadi ruang bagi pemuda-pemudi untuk saling mengenal hingga mencari pasangan.

Tari Tauh juga dapat dibaca sebagai cermin kehidupan sosial masyarakat Bungo pada masa lalu.

Tauh “Sebuah Ajakan untuk Bertemu”

Ada cerita menarik di balik namanya.

Salah satu penelitian tentang Tari Tauh menjelaskan bahwa istilah “Tauh” berkaitan dengan kata “nauh”, yang berarti temu atau bertemu. Pertemuan pada masa itu merujuk pada pertemuan bujang dan gadis untuk menjalin silaturahmi. Sementara dalam pemaknaan masyarakat lainnya, “tauh” juga dipahami sebagai ajakan atau panggilan untuk menari.

Perbedaan pemaknaan inijustru memperlihatkan kekayaan tradisi lisan masyarakat pada masa lalu yang punuh literasi kearifan lokal.

Ada satu benang merah yang dapat kita temukan “Tari Tauh adalah tentang pertemuan”

Pertemuan antara manusia dengan manusia, antara generasi muda dengan adat, dan antara kegembiraan dengan kehidupan bersama.

Pada masa lalu, ketika teknologi komunikasi belum seperti sekarang, halaman rumah dan ruang terbuka menjadi tempat masyarakat bertemu. Tari, musik, dan pantun menjadi bahasa untuk membangun hubungan.

Gerak yang Menggambarkan Pergaulan

Tari Tauh biasanya dibawakan oleh pasangan penari laki-laki dan perempuan. Gerakannya tidak sekadar dibuat untuk menghasilkan keindahan visual, tetapi juga menggambarkan tata cara pergaulan muda-mudi.

Dalam kajian koreografi Tari Tauh ditemukan sejumlah ragam gerak, seperti tepuk, limbai, dan ngebeng pada penari laki-laki, serta jinjit dan nyenting pada penari perempuan. Pola geraknya memperlihatkan adanya interaksi antara penari laki-laki dan perempuan, tetapi tetap menjaga jarak dan batas yang menjadi bagian dari norma sosial masyarakat.

Karena itu, gerakan Tari Tauh dapat dipahami sebagai bahasa tubuh.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada pesan singkat.

Gerakan dan irama sudah cukup menjadi sarana untuk membangun komunikasi.

Ketika Pantun Bertemu Krinok

Tari Tauh juga tidak dapat dipisahkan dari krinok, seni vokal tradisional masyarakat Rantau Pandan.

Krinok hadir melalui lantunan suara dan pantun yang dapat mengungkapkan berbagai perasaan. Ada kegembiraan, kesedihan, harapan, bahkan ungkapan ketertarikan terhadap seseorang. Pada pertunjukan Tari Tauh, krinok kemudian berpadu dengan alat musik tradisional seperti gong, gendang, ketipung, seruling, biola, dan kulintang kayu.

Bayangkan suasananya!

Malam mulai turun. Masyarakat berkumpul di halaman rumah. Suara musik mulai terdengar. Pantun dilantunkan. Para penari memasuki ruang pertunjukan. Bujang dan gadis bergerak mengikuti irama.

Pada saat seperti itu, tari bukan hanya tontonan.

Menari menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dari Beselang ke Berelek Gedang

Seiring perubahan zaman, fungsi Tari Tauh ikut berkembang.

Jika dahulu tarian ini sangat dekat dengan tradisi beselang dan pergaulan muda-mudi, kini keberadaannya semakin kuat dalam kegiatan adat dan pertunjukan budaya. Salah satu yang menajdi pentingnya tari tauh adalah Berelek Gedang, pesta perkawinan adat dalam masyarakat Rantau Pandan.

Penelitian Universitas Jambi menunjukkan bahwa dalam acara silahturahmi adat yang beranam Berelek Gedang, Tari Tauh tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Tarian ini juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi, menjaga persatuan, serta menegaskan identitas budaya masyarakat Rantau Pandan.

Pada masa perkembangannya, Tari Tauh juga dipentaskan pada acara penyambutan dan kegiatan budaya lainnya. Artinya, tradisi ini tidak berhenti pada bentuk masa lalu. Tetapi terus menyesuaikan diri dengan ruang kehidupan masyarakat sekarang.

Warisan yang Tidak Boleh Berhenti di Panggung

Mungkin yang paling penting dari Tari Tauh bukan hanya gerakannya.

Yang lebih penting adalah cerita di baliknya.

Tradisi ini mengingatkan kita pada masyarakat yang terbiasa bekerja bersama. Pada sawah yang dikerjakan secara gotong royong. Pada halaman rumah yang menjadi ruang pertemuan. Pada bujang dan gadis yang belajar berinteraksi melalui aturan adat. Pada pantun yang menjadi cara menyampaikan perasaan. Dan pada musik krinok yang membuat sebuah pertemuan menjadi lebih hidup.

Hari ini, ketika anak-anak muda semakin akrab dengan dunia digital, Tari Tauh menghadapi tantangan yang sama dengan banyak kesenian tradisional lainnya! bagaimana membuat generasi baru tidak hanya mengenal namanya, tetapi juga memahami maknanya.

Sebab melestarikan Tari Tauh bukan sekadar mengajarkan anak muda cara menari.

Kita perlu mengajarkan mengapa tarian itu lahir, nilai apa yang dibawanya, dan cerita masyarakat seperti apa yang hidup di balik setiap gerakannya.

Pada akhirnya, Tari Tauh mengajarkan sebuah pesan yang sederhana.

Budaya lahir dari pertemuan. Juga bisa tumbuh dari kebersamaan dan akan tetap hidup selama generasi berikutnya bersedia mengenal, mempelajari, dan meneruskannya.

Dari sawah, tradi tumbuh.

Dari halaman rumah, tradisi diwariskan.

Dan hari ini, dari panggung budaya, Tari Tauh kembali mengajak kita untuk mengenal jejak masyarakat Bungo yang semakin maju tradisi moderenya.

Jejak Literasi-Menelusuri Jejak, Menemukan Makna.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?