- Diposting oleh : Dedek Helida Putra
- pada tanggal : Agustus 30, 2026
Ada satu ilusi yang semakin menarik untuk direnungkan
dalam pendidikan tinggi hari ini! Menjadi dosen tidak otomatis membuat seseorang lebih pintar daripada
mahasiswa. Menjadi dosen juga tidak otomatis membuat seseorang lebih arif dalam
mendidik. Dan menjadi mahasiswa tidak berarti seseorang harus selalu berada
dalam posisi yang lebih rendah secara intelektual.
Dosen memiliki pengalaman, pengetahuan, dan otoritas
akademik. Tetapi mahasiswa memiliki sesuatu yang tidak kalah penting “Pertanyaan”.
Justru di sanalah ilmu pengetahuan tumbuh.
Bayangkan sebuah kelas sebagai ruang persidangan
ilmiah. Dosen bukan hakim yang setiap ucapannya harus dianggap sebagai
putusan akhir. Mahasiswa bukan terdakwa yang hanya boleh menjawab ketika
ditanya. Dosen idealnya menjadi fasilitator yang membantu mahasiswa menguji
argumen, sementara mahasiswa menjadi warga intelektual yang berhak bertanya,
meragukan, mengkritisi, bahkan mengatakan, “Saya tidak sepakat, Pak/Bu,
karena…”
Kalau kalimat terakhir sudah dianggap sebagai bentuk
ketidaksopanan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya “Apa sebenarnya yang sedang kita sebut sebagai pendidikan tinggi?”
Sebab universitas yang sehat bukan universitas yang
mahasiswanya selalu mengatakan “iya”. Universitas yang sehat
justru melahirkan mahasiswa yang mampu mengatakan “mengapa?”, “bagaimana
jika sebaliknya?”, dan “apa buktinya?”
Mahasiswa Diajarkan Berpikir Kritis,
Tetapi Takut Berbicara
Di kelas kita sering mengajarkan critical thinking.
Dalam berbagai
seminar kita berbicara tentang higher-order thinking
skills. Dalam berbagai dokumen akademik kita menulis kata-kata seperti analisis,
evaluasi, sintesis, kreativitas, argumentasi, dan pemecahan masalah.
Tetapi mari jujur melihat realitas.
Berapa banyak mahasiswa yang benar-benar berani
mengangkat tangan dan berkata “Saya berbeda pendapat.”
Bukan karena mereka tidak memiliki pikiran. Sering kali mereka takut konsekuensi dari pikirannya sendiri.
Takut pertanyaannya dianggap bodoh,
Takut nilainya terpengaruh,
Takut dicap tidak sopan,
Takut berhadapan dengan dosen,
Takut berhadapan dengan birokrasi,
Bahkan takut karena merasa posisi mahasiswa terlalu kecil untuk mempertanyakan
sesuatu yang dianggap sudah menjadi keputusan institusi.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kemampuan
akademik mahasiswa. Ini adalah persoalan iklim akademik.
Secara teoritis, pendidikan tinggi membutuhkan academic
freedom dan intellectual autonomy. Mahasiswa perlu memiliki ruang
untuk mengembangkan penalaran tanpa tekanan yang membuat mereka memilih diam
demi keamanan akademiknya.
Sebab kepatuhan dan kecerdasan adalah dua hal berbeda. Mahasiswa yang selalu patuh belum tentu memahami. Mahasiswa yang banyak bertanya belum tentu membangkang. Bahkan dalam tradisi ilmu pengetahuan, kemajuan justru sering dimulai dari
seseorang yang berani mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya dianggap sudah
benar.
Newton bertanya tentang
gerak,
Einstein mempertanyakan asumsi tentang ruang dan waktu,
Socrates menjadikan pertanyaan sebagai jalan menuju pengetahuan,
Lalu mengapa di ruang kelas kita terkadang justru takut
pada pertanyaan?
Kampus Bisa Menghasilkan Mahasiswa yang
Pandai Menjawab, tetapi Tidak Pandai Bertanya!
Inilah bagian yang sedikit menyakitkan.
Kita bisa saja memiliki mahasiswa dengan IPK tinggi,
sertifikat seminar bertumpuk, portofolio organisasi panjang, dan kemampuan
presentasi yang bagus.
Tetapi ketika ditanya “Apa masalah yang sebenarnya ingin kamu pecahkan?”
Mereka diam.
Ketika ditanya “Mengapa kamu percaya pada kesimpulan itu?”
Mereka mencari jawaban di Google dan AI
Ketika ditanya “Apa yang terjadi jika teori tersebut ternyata salah?”
Mereka kebingungan.
Mungkin ada sesuatu yang keliru dalam cara kita mendidik. Kita terlalu sering mengajarkan jawaban, tetapi kurang memberi
pengalaman intelektual untuk menemukan pertanyaan.
Padahal dalam penelitian, kualitas pertanyaan sering kali
menentukan kualitas penelitian. Pertanyaan yang dangkal menghasilkan pembahasan
yang dangkal. Pertanyaan yang tajam membuka kemungkinan pengetahuan baru.
Karena itu, kesanggupan merumuskan pertanyaan
merupakan salah satu bentuk kematangan intelektual.
Dan saya kira inilah yang perlu kita perjuangkan kembali
di perguruan tinggi.
Bukan mahasiswa yang liar dalam arti tidak beraturan. Tetapi mahasiswa yang liar dalam berpikir.
Liar dalam imajinasi,
Liar dalam membaca kemungkinan,
Liar dalam mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa,
Namun tetap memiliki etika ilmiah, argumentasi, data, dan
tanggung jawab akademik.
Birokrasi Jangan Sampai Menjadi Tembok
bagi Pikiran
Kritik ini juga tidak boleh hanya diarahkan kepada dosen.
Perguruan tinggi adalah sebuah ekosistem. Ada dosen,
mahasiswa, program studi, fakultas, pimpinan, dan birokrasi akademik. Semuanya
memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang memungkinkan ilmu
berkembang.
Birokrasi diperlukan untuk memastikan kampus berjalan
tertib. Tetapi ketika birokrasi berubah menjadi ketakutan, ia dapat
menghasilkan fenomena yang ironis “mahasiswa belajar menjadi aman, bukan menjadi kritis”.
Mereka akhirnya memahami satu strategi sederhana “Jangan banyak bertanya. Jangan terlalu kritis. Ikuti saja. Yang penting
selesai.”
Jika mentalitas seperti ini tumbuh, kampus mungkin
berhasil mencetak lulusan.
Tetapi apakah kita berhasil mencetak intelektual?
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.
Dan refleksi ini tidak diarahkan kepada kampus tertentu
saja. Tetapi jika kita berbicara dari pengalaman pendidikan yang dekat dengan
kita,
termasuk realitas yang dapat kita amati di lingkungan
perguruan tinggi seperti UMMUBA. Maka, keberanian untuk
mengevaluasi budaya akademik harus dimulai dari dalam.
Bukan untuk mencari siapa yang salah. Tetapi untuk bertanya apakah ruang akademik kita sudah cukup aman bagi
lahirnya pikiran yang berbeda.
Dosen Pun Harus Bersedia Dikritik
Ada satu kesadaran yang menurut saya penting bagi dosen “mahasiswa tidak harus kalah pintar dari dosennya”
Bisa jadi mahasiswa mengetahui teknologi yang belum kita
kuasai. Bisa jadi mereka membaca literatur terbaru yang belum sempat kita baca.
Bisa jadi pengalaman hidup mereka menghasilkan perspektif yang tidak pernah
kita miliki.
Dan ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan yang membuat
dosen harus berpikir ulang, itu bukan kegagalan dosen. Justru itulah keberhasilan pendidikan.
Dosen tidak kehilangan wibawa karena berkata “Saya belum tahu, mari kita cari jawabannya bersama.” Sebaliknya, kalimat itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memang tidak
pernah selesai.
Kampus yang sehat bukan tempat di mana dosen selalu benar,
Kampus yang sehat adalah tempat di mana kebenaran
boleh diuji,
Dan mahasiswa harus belajar bahwa mempertanyakan dosen
bukan berarti tidak menghormati dosen. Begitu pula dosen harus memahami bahwa
kritik mahasiswa bukan otomatis merupakan pembangkangan.
Di antara keduanya terdapat satu prinsip penting “hormat kepada manusia, kritis terhadap gagasan”
Mari Membuat
Mahasiswa Sedikit Lebih “Liar”
Saya tidak sedang mengajak mahasiswa menjadi liar dalam
perilaku,
Saya justru ingin mereka liar dalam berpikir,
Berani membayangkan sesuatu yang belum ada,
Berani bertanya ketika semua orang diam,
Berani mengatakan “saya tidak tahu” ketika memang
belum tahu.
Berani mengatakan “saya tidak setuju” ketika memiliki
alasan.
Dan yang paling penting, berani mengubah pendapat ketika
menemukan bukti yang lebih kuat. Sebab pendidikan
tinggi seharusnya bukan pabrik kepatuhan.
Universitas adalah ruang tempat manusia belajar
membebaskan pikirannya dari ketakutan, tetapi tetap mengikat pikirannya pada
argumentasi dan kebenaran ilmiah.
Maka mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dari “Mengapa mahasiswa sekarang tidak kritis?”
Menjadi “Apakah kita sudah menciptakan ruang yang cukup aman bagi mereka untuk menjadi kritis?”
Karena terkadang mahasiswa tidak kehilangan daya
kritisnya.
Kita hanya terlalu sering membuat mereka takut
menggunakannya.
Jejak Literasi-Menelusuri Jejak, Menemukan Makna.
