Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Dosen Tidak Selalu Benar, Mahasiswa Tidak Harus Selalu Diam

 

Ada satu ilusi yang semakin menarik untuk direnungkan dalam pendidikan tinggi hari ini! Menjadi dosen tidak otomatis membuat seseorang lebih pintar daripada mahasiswa. Menjadi dosen juga tidak otomatis membuat seseorang lebih arif dalam mendidik. Dan menjadi mahasiswa tidak berarti seseorang harus selalu berada dalam posisi yang lebih rendah secara intelektual.

Dosen memiliki pengalaman, pengetahuan, dan otoritas akademik. Tetapi mahasiswa memiliki sesuatu yang tidak kalah penting “Pertanyaan”.

Justru di sanalah ilmu pengetahuan tumbuh.

Bayangkan sebuah kelas sebagai ruang persidangan ilmiah. Dosen bukan hakim yang setiap ucapannya harus dianggap sebagai putusan akhir. Mahasiswa bukan terdakwa yang hanya boleh menjawab ketika ditanya. Dosen idealnya menjadi fasilitator yang membantu mahasiswa menguji argumen, sementara mahasiswa menjadi warga intelektual yang berhak bertanya, meragukan, mengkritisi, bahkan mengatakan, “Saya tidak sepakat, Pak/Bu, karena…”

Kalau kalimat terakhir sudah dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya “Apa sebenarnya yang sedang kita sebut sebagai pendidikan tinggi?”

Sebab universitas yang sehat bukan universitas yang mahasiswanya selalu mengatakan “iya”. Universitas yang sehat justru melahirkan mahasiswa yang mampu mengatakan “mengapa?”, “bagaimana jika sebaliknya?”, dan “apa buktinya?”

Mahasiswa Diajarkan Berpikir Kritis, Tetapi Takut Berbicara

Di kelas kita sering mengajarkan critical thinking. Dalam berbagai seminar kita berbicara tentang higher-order thinking skills. Dalam berbagai dokumen akademik kita menulis kata-kata seperti analisis, evaluasi, sintesis, kreativitas, argumentasi, dan pemecahan masalah.

Tetapi mari jujur melihat realitas.

Berapa banyak mahasiswa yang benar-benar berani mengangkat tangan dan berkata “Saya berbeda pendapat.”

Bukan karena mereka tidak memiliki pikiran. Sering kali mereka takut konsekuensi dari pikirannya sendiri.

Takut pertanyaannya dianggap bodoh,  
Takut nilainya terpengaruh
,         
Takut dicap tidak sopan
,   
Takut berhadapan dengan dosen
,
Takut berhadapan dengan birokrasi
,      
Bahkan takut karena merasa posisi mahasiswa terlalu kecil untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap sudah menjadi keputusan institusi.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kemampuan akademik mahasiswa. Ini adalah persoalan iklim akademik.

Secara teoritis, pendidikan tinggi membutuhkan academic freedom dan intellectual autonomy. Mahasiswa perlu memiliki ruang untuk mengembangkan penalaran tanpa tekanan yang membuat mereka memilih diam demi keamanan akademiknya.

Sebab kepatuhan dan kecerdasan adalah dua hal berbeda. Mahasiswa yang selalu patuh belum tentu memahami. Mahasiswa yang banyak bertanya belum tentu membangkang. Bahkan dalam tradisi ilmu pengetahuan, kemajuan justru sering dimulai dari seseorang yang berani mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya dianggap sudah benar.

Newton bertanya tentang gerak,  
Einstein mempertanyakan asumsi tentang ruang dan waktu
,           
Socrates menjadikan pertanyaan sebagai jalan menuju pengetahuan
,

Lalu mengapa di ruang kelas kita terkadang justru takut pada pertanyaan?

Kampus Bisa Menghasilkan Mahasiswa yang Pandai Menjawab, tetapi Tidak Pandai Bertanya!

Inilah bagian yang sedikit menyakitkan.

Kita bisa saja memiliki mahasiswa dengan IPK tinggi, sertifikat seminar bertumpuk, portofolio organisasi panjang, dan kemampuan presentasi yang bagus.

Tetapi ketika ditanya “Apa masalah yang sebenarnya ingin kamu pecahkan?”

Mereka diam.

Ketika ditanya “Mengapa kamu percaya pada kesimpulan itu?”

Mereka mencari jawaban di Google dan AI

Ketika ditanya “Apa yang terjadi jika teori tersebut ternyata salah?”

Mereka kebingungan.

Mungkin ada sesuatu yang keliru dalam cara kita mendidik. Kita terlalu sering mengajarkan jawaban, tetapi kurang memberi pengalaman intelektual untuk menemukan pertanyaan.

Padahal dalam penelitian, kualitas pertanyaan sering kali menentukan kualitas penelitian. Pertanyaan yang dangkal menghasilkan pembahasan yang dangkal. Pertanyaan yang tajam membuka kemungkinan pengetahuan baru.

Karena itu, kesanggupan merumuskan pertanyaan merupakan salah satu bentuk kematangan intelektual.

Dan saya kira inilah yang perlu kita perjuangkan kembali di perguruan tinggi.

Bukan mahasiswa yang liar dalam arti tidak beraturan. Tetapi mahasiswa yang liar dalam berpikir.

Liar dalam imajinasi,

Liar dalam membaca kemungkinan,

Liar dalam mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa,

Namun tetap memiliki etika ilmiah, argumentasi, data, dan tanggung jawab akademik.

Birokrasi Jangan Sampai Menjadi Tembok bagi Pikiran

Kritik ini juga tidak boleh hanya diarahkan kepada dosen.

Perguruan tinggi adalah sebuah ekosistem. Ada dosen, mahasiswa, program studi, fakultas, pimpinan, dan birokrasi akademik. Semuanya memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang memungkinkan ilmu berkembang.

Birokrasi diperlukan untuk memastikan kampus berjalan tertib. Tetapi ketika birokrasi berubah menjadi ketakutan, ia dapat menghasilkan fenomena yang ironis “mahasiswa belajar menjadi aman, bukan menjadi kritis”.

Mereka akhirnya memahami satu strategi sederhana “Jangan banyak bertanya. Jangan terlalu kritis. Ikuti saja. Yang penting selesai.”

Jika mentalitas seperti ini tumbuh, kampus mungkin berhasil mencetak lulusan.

Tetapi apakah kita berhasil mencetak intelektual?

Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.

Dan refleksi ini tidak diarahkan kepada kampus tertentu saja. Tetapi jika kita berbicara dari pengalaman pendidikan yang dekat dengan kita, termasuk realitas yang dapat kita amati di lingkungan perguruan tinggi seperti UMMUBA. Maka, keberanian untuk mengevaluasi budaya akademik harus dimulai dari dalam.

Bukan untuk mencari siapa yang salah. Tetapi untuk bertanya apakah ruang akademik kita sudah cukup aman bagi lahirnya pikiran yang berbeda.

Dosen Pun Harus Bersedia Dikritik

Ada satu kesadaran yang menurut saya penting bagi dosen “mahasiswa tidak harus kalah pintar dari dosennya”

Bisa jadi mahasiswa mengetahui teknologi yang belum kita kuasai. Bisa jadi mereka membaca literatur terbaru yang belum sempat kita baca. Bisa jadi pengalaman hidup mereka menghasilkan perspektif yang tidak pernah kita miliki.

Dan ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan yang membuat dosen harus berpikir ulang, itu bukan kegagalan dosen. Justru itulah keberhasilan pendidikan.

Dosen tidak kehilangan wibawa karena berkata “Saya belum tahu, mari kita cari jawabannya bersama.” Sebaliknya, kalimat itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memang tidak pernah selesai.

Kampus yang sehat bukan tempat di mana dosen selalu benar,

Kampus yang sehat adalah tempat di mana kebenaran boleh diuji,

Dan mahasiswa harus belajar bahwa mempertanyakan dosen bukan berarti tidak menghormati dosen. Begitu pula dosen harus memahami bahwa kritik mahasiswa bukan otomatis merupakan pembangkangan.

Di antara keduanya terdapat satu prinsip penting “hormat kepada manusia, kritis terhadap gagasan”

Mari Membuat Mahasiswa Sedikit Lebih “Liar”

Saya tidak sedang mengajak mahasiswa menjadi liar dalam perilaku,

Saya justru ingin mereka liar dalam berpikir,

Berani membayangkan sesuatu yang belum ada,

Berani bertanya ketika semua orang diam,

Berani mengatakan “saya tidak tahu” ketika memang belum tahu.

Berani mengatakan “saya tidak setuju” ketika memiliki alasan.

Dan yang paling penting, berani mengubah pendapat ketika menemukan bukti yang lebih kuat. Sebab pendidikan tinggi seharusnya bukan pabrik kepatuhan.

Universitas adalah ruang tempat manusia belajar membebaskan pikirannya dari ketakutan, tetapi tetap mengikat pikirannya pada argumentasi dan kebenaran ilmiah.

Maka mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dari “Mengapa mahasiswa sekarang tidak kritis?”

Menjadi “Apakah kita sudah menciptakan ruang yang cukup aman bagi mereka untuk menjadi kritis?”

Karena terkadang mahasiswa tidak kehilangan daya kritisnya. Kita hanya terlalu sering membuat mereka takut menggunakannya.

Jejak Literasi-Menelusuri Jejak, Menemukan Makna.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?