- Diposting oleh : Dedek Helida Putra
- pada tanggal : Agustus 19, 2026
Ada gagasan yang
lahir dari ruang rapat, ada yang tumbuh dari penelitian, tetapi ada pula yang
justru bermula dari sebuah pertanyaan sederhana di ruang kelas “Siapa kita, dan dari mana identitas
kita berasal?” Dari pertanyaan itulah gagasan mendirikan Rumah Baca Kajang Lako Kabupaten Bungo
mulai menemukan bentuknya.
Gagasan ini digagas
oleh Dedek Helida Pitra,
S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, yang selama ini memiliki
perhatian pada Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, literasi, dan
pendidikan berbasis kearifan lokal. Secara kelembagaan, Dedek Helida Pitra
tercatat sebagai dosen PGSD UMMUBA dengan bidang keilmuan Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan.
Ide Rumah BacaKajang Lako tidak muncul secara tiba-tiba. Ide ini berangkat dari proses
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya ketika membahas identitas nasional.
Dalam perspektif kewarganegaraan, identitas nasional tidak pernah berdiri
sendiri. Identitas Indonesia terbentuk dari keragaman identitas lokal yang
hidup dalam masyarakat. Karena itu, berbicara tentang Indonesia sesungguhnya
juga berarti berbicara tentang Jambi, Bungo, adat, bahasa, sejarah, rumah
tradisional, nilai kebersamaan, dan pengalaman masyarakat yang membentuk
kehidupan sehari-hari.
Dari sinilah muncul
kegelisahan sekaligus pertanyaan yang lebih nyata, Jika generasi muda diminta mencintai
budaya dan identitas bangsa, di mana mereka dapat mengenal identitas lokalnya
sendiri? Apakah cukup melalui buku pelajaran? Apakah cukup
melalui upacara dan peringatan budaya? Ataukah diperlukan ruang hidup yang
memungkinkan anak-anak dan pemuda membaca, berdiskusi, belajar, berkarya,
sekaligus berinteraksi langsung dengan warisan budaya mereka?
Rumah Baca Kajang
Lako kemudian dirancang sebagai salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut.
Pilihan nama Kajang Lako bukan
sekadar persoalan estetika. Rumah adat menjadi simbol bahwa pengetahuan modern
tidak harus membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya. Rumah Baca ini
ingin mempertemukan dua dunia, akar
lokal dan wawasan global. Buku membuka jendela menuju dunia,
sementara budaya lokal menjadi akar yang menjaga seseorang tetap memiliki arah
dan identitas.
Prinsipnya sederhana
“Tahu diri untuk tahu
dunia ”
Rumah Baca Kajang
Lako karena itu tidak dimaksudkan hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam
buku. Ia dirancang sebagai ruang pendidikan masyarakat, tempat anak-anak
mengenal buku, pemuda belajar berorganisasi, masyarakat berbagi pengetahuan,
dan nilai-nilai budaya Bungo kembali diperbincangkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam kerangka ini, literasi dipahami secara lebih luas, bukan
hanya kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan membaca kehidupan, membaca
sejarah, membaca budaya, membaca persoalan masyarakat, dan kemudian mengambil
peran di dalamnya.
Gagasan dibahas ini
juga sejalan dengan karakter PGSD UMMUBA yang menempatkan pendidikan,
penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan lokal sebagai bagian penting
dari pengembangan keilmuan. Bahkan, aktivitas akademik Dedek Helida Pitra
sebelumnya menunjukkan perhatian pada pembelajaran yang menghubungkan
pendidikan dengan persoalan nyata masyarakat; salah satunya melalui kegiatan
pengabdian dan pengembangan pembelajaran di lingkungan sekolah Kabupaten Bungo.
Menariknya, gagasan
ini juga memiliki hubungan kuat dengan pengalaman pembelajaran kontekstual.
Dalam kegiatan kuliah lapangan Pendidikan Kewarganegaraan, mahasiswa pernah
diajak menelusuri Rumah Tuo Adat Melayu Jambi di Rantau Panjang, Merangin,
untuk memahami kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan identitas dan
karakter kebangsaan. Artinya, ruang belajar tidak harus selalu berbentuk ruang
kelas. Rumah adat, masyarakat, sejarah, dan lingkungan kebudayaan juga dapat
menjadi “buku” yang dibaca melalui pengalaman langsung.
Di titik inilah
Rumah Baca Kajang Lako menemukan makna yang lebih besar. Rumaha Baca Kajang
lako adalah gerakanpendidikan berbasis komunitas yang ingin menjadikan literasi
sebagai jalan untuk merawat identitas. Komunitas ini merupakan ruang pertemuan
antara anak-anak, pemuda, pendidik, pegiat budaya, masyarakat, dan berbagai
pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Bungo.
Tentu, membangun
Rumah Baca bukan pekerjaan sehari. Tetapi
membutuhkan buku, tempat, relawan, program, jejaring, pengelolaan yang
berkelanjutan, serta dukungan masyarakat. Namun, sebuah gerakan besar selalu
dimulai dari satu gagasan kecil yang dipercaya dan dikerjakan bersama.
Karena itu, Rumah
Baca Kajang Lako bukan hanya tentang membangunsebuah rumah. Yang sedang dibangun adalah ekosistem
pengetahuan. Yang sedang dirawat bukan hanya buku, tetapi ingatan. Yang sedang
ditumbuhkan bukan sekadar minat baca, tetapi generasi yang mengenal dirinya,
memahami budayanya, terbuka terhadap dunia, dan memiliki keberanian untuk
berkontribusi bagi daerahnya.
Dari ruang kelas PKn, gagasan itu lahir. Dari Rumah Baca
Kajang Lako, semoga gagasan ini tumbuh menjadi gerakan literasi dan kebudayaan
masyarakat Bungo. Mengakar di bumi, merengkuh langit.
