Skip to Content
Loading...
TIM Redaksi Jejak Literasi
TIM Redaksi Jejak Literasi
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Menumbuhkan Gagasan Rumah Baca Kajang Lako Kabupaten Bungo

Ada gagasan yang lahir dari ruang rapat, ada yang tumbuh dari penelitian, tetapi ada pula yang justru bermula dari sebuah pertanyaan sederhana di ruang kelas “Siapa kita, dan dari mana identitas kita berasal?” Dari pertanyaan itulah gagasan mendirikan Rumah Baca Kajang Lako Kabupaten Bungo mulai menemukan bentuknya.

Gagasan ini digagas oleh Dedek Helida Pitra, S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, yang selama ini memiliki perhatian pada Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, literasi, dan pendidikan berbasis kearifan lokal. Secara kelembagaan, Dedek Helida Pitra tercatat sebagai dosen PGSD UMMUBA dengan bidang keilmuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Ide Rumah BacaKajang Lako tidak muncul secara tiba-tiba. Ide ini berangkat dari proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya ketika membahas identitas nasional. Dalam perspektif kewarganegaraan, identitas nasional tidak pernah berdiri sendiri. Identitas Indonesia terbentuk dari keragaman identitas lokal yang hidup dalam masyarakat. Karena itu, berbicara tentang Indonesia sesungguhnya juga berarti berbicara tentang Jambi, Bungo, adat, bahasa, sejarah, rumah tradisional, nilai kebersamaan, dan pengalaman masyarakat yang membentuk kehidupan sehari-hari.

Dari sinilah muncul kegelisahan sekaligus pertanyaan yang lebih nyata, Jika generasi muda diminta mencintai budaya dan identitas bangsa, di mana mereka dapat mengenal identitas lokalnya sendiri? Apakah cukup melalui buku pelajaran? Apakah cukup melalui upacara dan peringatan budaya? Ataukah diperlukan ruang hidup yang memungkinkan anak-anak dan pemuda membaca, berdiskusi, belajar, berkarya, sekaligus berinteraksi langsung dengan warisan budaya mereka?

Rumah Baca Kajang Lako kemudian dirancang sebagai salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut.

Pilihan nama Kajang Lako bukan sekadar persoalan estetika. Rumah adat menjadi simbol bahwa pengetahuan modern tidak harus membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya. Rumah Baca ini ingin mempertemukan dua dunia, akar lokal dan wawasan global. Buku membuka jendela menuju dunia, sementara budaya lokal menjadi akar yang menjaga seseorang tetap memiliki arah dan identitas.

Prinsipnya sederhana “Tahu diri untuk tahu dunia ”

Rumah Baca Kajang Lako karena itu tidak dimaksudkan hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku. Ia dirancang sebagai ruang pendidikan masyarakat, tempat anak-anak mengenal buku, pemuda belajar berorganisasi, masyarakat berbagi pengetahuan, dan nilai-nilai budaya Bungo kembali diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka ini, literasi dipahami secara lebih luas, bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan membaca kehidupan, membaca sejarah, membaca budaya, membaca persoalan masyarakat, dan kemudian mengambil peran di dalamnya.

Gagasan dibahas ini juga sejalan dengan karakter PGSD UMMUBA yang menempatkan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan lokal sebagai bagian penting dari pengembangan keilmuan. Bahkan, aktivitas akademik Dedek Helida Pitra sebelumnya menunjukkan perhatian pada pembelajaran yang menghubungkan pendidikan dengan persoalan nyata masyarakat; salah satunya melalui kegiatan pengabdian dan pengembangan pembelajaran di lingkungan sekolah Kabupaten Bungo.

Menariknya, gagasan ini juga memiliki hubungan kuat dengan pengalaman pembelajaran kontekstual. Dalam kegiatan kuliah lapangan Pendidikan Kewarganegaraan, mahasiswa pernah diajak menelusuri Rumah Tuo Adat Melayu Jambi di Rantau Panjang, Merangin, untuk memahami kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan identitas dan karakter kebangsaan. Artinya, ruang belajar tidak harus selalu berbentuk ruang kelas. Rumah adat, masyarakat, sejarah, dan lingkungan kebudayaan juga dapat menjadi “buku” yang dibaca melalui pengalaman langsung.

Di titik inilah Rumah Baca Kajang Lako menemukan makna yang lebih besar. Rumaha Baca Kajang lako adalah gerakanpendidikan berbasis komunitas yang ingin menjadikan literasi sebagai jalan untuk merawat identitas. Komunitas ini merupakan ruang pertemuan antara anak-anak, pemuda, pendidik, pegiat budaya, masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Bungo.

Tentu, membangun Rumah Baca bukan pekerjaan sehari.  Tetapi membutuhkan buku, tempat, relawan, program, jejaring, pengelolaan yang berkelanjutan, serta dukungan masyarakat. Namun, sebuah gerakan besar selalu dimulai dari satu gagasan kecil yang dipercaya dan dikerjakan bersama.

Karena itu, Rumah Baca Kajang Lako bukan hanya tentang membangunsebuah rumah. Yang sedang dibangun adalah ekosistem pengetahuan. Yang sedang dirawat bukan hanya buku, tetapi ingatan. Yang sedang ditumbuhkan bukan sekadar minat baca, tetapi generasi yang mengenal dirinya, memahami budayanya, terbuka terhadap dunia, dan memiliki keberanian untuk berkontribusi bagi daerahnya.

Dari ruang kelas PKn, gagasan itu lahir. Dari Rumah Baca Kajang Lako, semoga gagasan ini tumbuh menjadi gerakan literasi dan kebudayaan masyarakat Bungo. Mengakar di bumi, merengkuh langit.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?